Kamis, Januari 28, 2010

Hold On

When you need someone to hold you
When you feel cold and alone
Try to find a way to warm yourself
But you don't no what to do
This is for those who suffer a lot
It feels so hard to smile
Remember at the times of sadness
When people are crying for their lives
Look around you
There's an emptiness in their eyes
No more children's laugh
No more peace in our lives
So let's hold on together
Release all your pain
And let me wipe your tears
And smile
Believe in the power of love
The strength inside you
And let us survive
Build the happiness
Hold on..
Hold on..



Friday, January 22, 2010 at 1:24am

*taken from Ten 2 Five - Hold On


The Road Not Taken

masih ingat dengan yang satu ini???







which is your road???



this is mine...





Thursday, January 21, 2010 at 10:30am

Ironis...

Dan aku bukanlah manusia dengan pilihan dan hak sendiri, karena ternyata, pada kenyataannya hidupku menjadi sangat dikendalikan oleh orang lain.
Sebuah budaya yang memaksa manusianya menjadi pengatur bagi manusia lain, sementara mereka sendiri tidak bisa menentukan pilihan untuk kehidupan mereka sendiri.
Ironis.

Sebuah budaya yang tragis.
Tentang manusia yang mengalahkan Tuhan penciptanya.
Menempatkan sesembahan pada bait terakhir dari sebuah pilihan kehidupan.
Ironis.





Wednesday, January 20, 2010 at 7:42am

Selasa, Januari 19, 2010

HANYA SATU KEKURANGAN WANITA...

*cerita ini udah lama banget. jadi dulu seorang teman mengirimiku crita ini, entah dia dapet dari mana ku juga gak taw. katanya, ini sebagai "pengeling" alias pengingat bagiku supaya aku lebih bersyukur karena telah tercipta sebagai sosok seorang "wanita"...
pengen berbagi aja ma temen2 smua..

jadi gini critanya...
ketika TUHAN Menciptakan wanita,
DIA lembur

pada hari ke-6.
Malaikat datang dan bertanya
"Mengapa Begitu lama TUHAN?"

TUHAN menjawab
"Sudah kah engkau liat semua detail yg AKU buat untuk menciptakan mereka?2 tangan mereka harus bisa dibersihkan,
tetapi bahannya bukan dari plastik.
Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan.
Mampu menjaga banyak anak saat bersamaan,
punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan,
dan semua dilakukannya dengan 2 tangan mereka.

Malaikat itu Takjub..
"Hanya dengan 2 tangan?... tidak mungkin!!"

Tuhan lalu berkata,
"Oh...Tidak!! AKU akan menyelesaikan ciptaan hari ini, karena ini adalah ciptaan favoritKU.
Oh ya...dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja selama 18 jam sehari."

Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan TUHAN itu,
"Tapi Engkau membuatnya begitu Lembut TUHAN?"

Tuhan menjawab,
"Yah...Aku membuatnya begitu lembut,tapi engkau belum bisa bayangkan kekuatan yang AKu berikan
agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa?"

"Dia bisa berpikir?" tanya malaikat

TUHAN menjawab, "Tak hanya berpikir,dia mampu bernegoisasi. "

Malaikat itu menyentuh dagunya. . .
"TUHAN ENGKAU buat ciptaan ini kelihatannya lelah dan rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya..."
"Itu bukan lelah atau rapuh.... itu AIR MATA" jawab Tuhan.

"Untuk apa?" tanya malaikat

Tuhan melanjutkan : " AIR MATA adalah salah satu caranya mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian,penderitaan dan kebahagiaan.."

"ENGKAU memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!" jawab malaikat.

"YA Pasti!
Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona bagi laki-laki.
Dia dapat mengatasi beban bahkan beban seorang laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagian dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, terharu saat tertawa, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Dia tidak menolak kalo melihat yang lebih baik.
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya.
Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat..
- CINTANYA TANPA SYARAT -
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Dia girang dan bersorak saat melihat temannya tertawa.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Hatinya begitu sedih saat mendengar berita sakit dan kematian.

Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka...."
"Hanya 1 Kekurangan dari Wanita "

"Apa itu TUHAN?" tanya malaikat.


"DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA.."

“Daun” terbang karena tiupan “angin” atau karena “pohon” tidak memintanya untuk tinggal?

Sehelai daun bergelanyut di tangkai sebuah pohon yang terletak di tepi sungai. Mulai menguning dan layu. Begitu lebatnya pohon itu dengan ribuan kuncup daun yang baru. Kali ini musim semi mulai lebih awal dari biasanya. Dan daun yang mulai menguning itu telah bertahan dalam satu periode musim dingin yang garang dan dengan setia menemani sang pohon dalam jejakan salju serta amukan badai yang lalu. Sang daun itu tetap bersetia walau Kristal-kristal es tak ayal nyaris membekukannya. Dan ia bertahan di sana, sehelai, sendirian. Tetap memperkuat cengkramannya demi menemani sang pohon yang kesepian dan berjuang di tengah hamparan musim dingin nan angkuh.

Kenapa ia tak memilih untuk gugur bersama ribuan daun yang lain untuk menghangatkan diri dengan timbunan tanah. Bercinta dengan cacing dan ngengat serta mencabikkan diri kembali pada alam kemudian terurai dan terburai. Bukankah lebih tenang? Tanpa perlu bertahan di tengah gusaran sang badai yang mengoyak.


Namun sehelai daun itu memilih untuk bertahan. Ia ingin berjuang bersama sang pohon yang telah memberinya kehidupan dan kekuatan. Ia ingin mencurahkan seluruh cintanya pada sang pohon melalui detakan nafas dan rilis panas yang sedikit demi sedikit ia bagikan pada kekasihnya, sang pohon. Dan mereka bercinta pada musim dingin yang mencekat. Tak peduli betapa hebat badai salju berusaha mengoyaknya, sang daun tetap mencengkeram dan bertahan pada tangkainya. Begitu juga sang pohon yang semakin erat menggandeng daun itu semakin dalam dan mempertahankannya dalam tangkainya. Saling berbagi sari kehidupan untuk mempertahankan diri sari seleksi alam yang menggila.

Mereka masih tetap bertahan dengan saling memeluk dan membagi jiwa. Menyelaraskan dengan nyanyian musim dingin yang memekakkan. Hingga akhirnya matahari pertama musim semi menampakkan batang hidungnya setelah tertidur dalam hibernasinya yang damai. Menghembuskan nafas kehidupan bagi tiap inchi pohon itu. Membelai sang daun dengan embun pertamanya dan memuaskan dahaganya. Sang daun dan pohon masih tetap saling memeluk dan menatap samar pada sang matahari yang dengan lembut membangunkan mereka dari percintaannya di musim dingin.

Sang pohon pun pulih dari lemahnya. Dan sang daun masih bersetia untuk menemaninya. Sang pohon kembali menyerap sari kehidupan yang dihaturkan sang tanah melalui pembuluh-pembuluh kehidupan yang mengisi tiap rongga dalam tubuhnya. Merasa lebih hidup, dan tak lupa ia membagi nafas kehidupannya pada sang daun, kekasihnya. Hingga suatu saat, kuncup-kuncup daun barupun mulai bersemi dan berdesak-desak memenuhi tangkainya. Sang pohon merasa dirinya baru dan terlahir kembali, dengan beribu kuncup baru yang kembali menemaninya. Namun tak begitu halnya dengan sang daun. Ia merasa semakin lemah dan renta. Keriput dan menguning. Daun itu tak seindah dulu dan dia mulai menyadari genggamannya tak sekuat dulu. Namun ia masih bersetia pada kekasihnya, sang pohon.

Tiap orang yang memandang pohon itu merasa bahagia. Melihat pohon itu kembali hidup dan merimbun. Namun rona mereka berubah ketika memandang sehelai daun yang mulai menguning di ujung tangkai pohon itu. Dalam hati mereka mengucap serapah kenapa tak jatuh saja daun itu, betapa ia memperburuk sang pohon yang begitu cantik. Beragam kata mereka ucap pada sang daun. Ada yang beriba karena melihat sang daun yang masih berusaha bergelanyut pada dahannya. Ada yang penuh kebencian menyumpah menginginkan daun itu musnah selamanya. Ada pula yang berusaha merontokkanya.

Sungguh, sang daun hanya diam memandangnya, dan masih mempererat cengkramannya pada sang pohon, kekasihnya. Namun ia merasa, kekasihnya tak lagi miliknya seorang. Ia tahu, kekasihnya harus membagi sari kehidupannya kepada beribu kuncup daun muda yang menantikan kehidupan darinya. Ia tahu sang pohon mulai mengabaikannya. Ia tahu bahwa sang pohon tak lagi membagi nafasnya seperti dulu. Ia tahu, cepat atau lambat sang pohon akan berhenti memberikan hawa padanya dna pada akhirnya melepaskan genggamannya pada sang daun.

Namun daun itu tetap bertahan. Walau di luar sana sang angin mulai merayunya untuk mengajaknya terbang. Betapa hebat sang angin mencoba menggoyahkannya, melarutkannya akan mimpi-mimpi di luar sana. Betapa angin dengan liciknya menggoyangkan sang pohon untuk merontokkannya dan mencabutnya dari dekapan kekasihnya, sang pohon.

Wahai angin, andai kau tahu betapa aku berusaha keras bertahan, mempertahankan kekasihku. Mempererat pelukku padanya dan bertahan dengan sepotong potong nafas yang mulai memudar. Wahai kekasihku, sang pohon. Ada apa kiranya engkau hanya membisu. Kenapa kau tak berusaha mempertahankanku dari gusaran angin yang berusaha menceraikan kau dariku? Wahai kekasihku, tahukah kau betapa keras aku berusaha bertahan padamu. Kenapa kau terlalu acuh dan memalingkan rasamu pada kuncup-kuncup baru itu? Ingatkah kau saat kita berusaha membagi nafas di sela himpitan salju nan mematikan? Ingatkan kau saat kita berbagi pelukan dan saling menguatkan kala badai musim dingin mencoba mengoyakkan?

Dan daun itupun tak sekuat dulu. Aku memang tua, kekasihku. Keropos dengan nafas yang tersengal menatapmu dari ujung tangkaimu. Wahai kekasihku yang mendepak hatiku, ada apa dengan dirimu? Apakah ini memang kuasa Tuhan dan seleksi alam yang akan memisahkanku denganmu? Kasihku, bicaralah, aku ingin mendengar rintihanmu, sama tatkala kita bercinta disaksikan kerlipan lampu kota nan iri pada pergulatan kita. Wahai kekasihku, kenapa kau tak jua mempertahankanku dari derai sang angin? Apakah kau tak lagi bersetia padaku?

Embun di pagi ini membangunkanku. Ia adalah cawan air mataku. Dan sang angin pun tak kalah gusar. Membelai dengan lembut namun menghanyut. Ada makna yang mencoba ia trandensikan dari lakunya merayuku. Aku tahu, sang angin masih mencoba merontokkanku. Namun kekasihku, aku masih bersetia denganmu.

Malam-malam kita tak lagi kita isi dengan bercinta. Cawan anggur itu pun tak lagi kau sentuhi, dan kini kuisi dengan air mata. Kau tak lagi mau menoleh padaku, sekadar untuk menyapa atau berbagi senyum. Wahai kekasihku, aku sungguh rindu. Lihatlah diriku kini yang begitu layu, terombang ambing oleh besutan angin yang tak henti menderaku juga suara suara manusia yang menjejakku dengan sumpah serapah mereka. Malam malam kuadukan kidungku pada sang bulan, namun ia hanya membisu. Juga pada kerlip bintang, namun ia juga dengan centil meninggalkanku. Hanya deru angin yang bernyanyi memekakkan gendang telingaku.

Duh gusti, aku menjadi pesakitan kali ini. Sedikit dikit tersesak dan tersedak oleh hawa kotor yang dijejalkan ke dalam paruku. Dan kau kekasihku, tak maukah kau membagi nafas denganku? Memompakan sedikit oksigen pada pundi-pundi hawaku?

Dan senja itu, di akhir musim semi yang pilu. Aku, sang daun sudah benar-benar pasrah. Menunggu kehendak Tuhan yang akan segera mencampakkanku menjauh darimu. Telah kudengar teriakan dan tawa sang angin. Ia telah bersiap dalam zona menyerangnya kapan saja sang pohon mencampakkanku. Karna dia tak sabar menunggu waktu penerbanganku.

Kekasihku, wahai sang pohon. Aku selalu menyayangimu. Andai aku bisa terus merengkuhmu, aku ingin melewatkan setiap kepingan waktu merenda renjana memalun rindu. Namun aku tahu, sayangku. Aku memang ditakdirkan untuk rontok dan meninggalkanmu. Karna aku hanya sehelai daun yang tak kuasa menahan kersane gusti, bahasa alam yang tak berhasil ku definisikan.

Aku hanya ingin kau bahagia, sayang. Tanpa sumpah serapah manusia-manusia itu, ataupun teriakan-teriakan angin yang menghentakmu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk meleburkan diri dengan sang bumi. Perlahan melepaskan genggamanku, dan jatuh dalam ayunan gravitasi. Biarkan ia merengkuhku. Aku tak ingin angin menerbangkanku pergi menjauh darimu. Biarlah aku terkapar di kakimu dengan mempersembahkan nafas terakhirku. Biarkan cacing-cacing menjamahku dan meleburkanku dengan sari pati bumi. Karna aku tahu, dengan begitu aku akan selalu ada bersamamu. Mengalir melalui pori akarmu, dan menjamah mengaliri ragamu. Memberi kehidupan, dan melebur dalam tiap bagian porimu. Dengan cara ini, aku akan selalu ada padamu. Dan kita satu.


January 19, 2010 8 p.m.